Minggu, 04 Oktober 2009

Gempa Sumbar

Gempabumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 30 September 2009, pukul 17:16:10 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 0.84o LS dan 99.65o BT, dengan magnitudo 7,6 SR pada kedalaman 71 km, berjarak 57 km baratdaya Padangpariaman dan 80 km timurlaut Padang, Provinsi Sumatra Barat. Sedangkan menurut USGS pusat gempabumi berada pada koordinat 0.890°LS dan 99.961°BT dengan magnitudo 7,6 Mw pada kedalaman 85 km. Gempabumi utama diikuti gempabumi susulan (Tabel 1 dan Tabel 2).

Gempa dengan guncangan kuat itu membuat panik ribuan warga Pariman dan Kota Padang yang langsung berhamburan ke luar rumah dan pertokoan untuk menyelamatkan diri, bahkan sebagian lari ke tempat tinggi karena khawatir terjadi tsunami.

Goncangan gempa mengakibatkan jaringan telekomunikasi milik PT Telkom rusak dan terputus serta aliran listrik padam, sehingga warga nyaris tak bisa berkomunikasi, baik lokal maupun dari luar Padang dan Pariaman. Kota Padang nyaris seperti kota mati.

Penderitaan semakin bertambah, karena usai gempa terjadi kebakaran di beberapa titik, dan turun hujan, namun warga tetap bertahan di luar rumah karena khawatir dengan gempa susulan.

Kepanikan warga Kota Padang mereda setelah Satkorlak setempat menginformasikan secara luas kepada masyarakat bahwa tidak terjadi tsunami pascagempa yang guncangannya hampir dirasakan di seluruh Pulau Sumatra itu.

Ratusan bahkan mungkin ribuan orang tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Hingga hari Sabtu, 3/10/09, masih banyak korban hidup maupun tewas yang belum bisa terevakuasi dari reruntuhan. Hal ini dikarenakan minimnya alat berat dan tenaga relawan.

Daerah Pariaman misalnya, daerah ini banyak terdapat pegunungan-pegunungan yang sulit dijangkau hingga mengakibatkan susahnya mendistribusikan bantuan. Sedangkan di Padang sendiri, kendala yang dihadapi adalah reruntuhan gedung bertingkat yang pecahan puing-puing bangunannya masih besar-besar. Keberadaan eskavator tidak bisa menjadi solusi dalam pembongkaran puing-puing karena dianggap tidak manusiawi dan dapat menambah korban jiwa dari korban-korban yang masih hidup. Beberapa orang mengusulkan alat berat crab/kepiting untuk mengangkat reruntuhan.

Untuk memperlancar datangnya bantuan maka beberapa maskapai penerbangan dan pelayaran memberikan harga khusus bahkan ada yang menggratiskan bagi relawan yang akan ke Sumbar dan bahan-bahan bantuan.


Sabtu, 19 September 2009

Mudik dan Kerja

Segenap penghuni Markas Juang Pemuda sudah mulai mudik ke kampung halaman masing-masing. Saat ini yang masih standby di Jogja tinggal beberapa saja. Selain itu masih ada beberapa kader Djong yang bertugas di Ciamis. Selamat bekerja bagi Kawan-Kawan yang bertugas di Ciamis dan hati-hati di jalan bagi Kawan-Kawan yang mudik. Doa kami menyertai kalian semua.

Dan pada kesempatan ini kami juga mengucapkan " Taqobballahu Minna Wa Minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. "

Selasa, 15 September 2009

Relawan Djong Ke Ciamis

Sebanyak tiga orang kader Djong akan diberangkatkan ke Ciamis besok Rabu, 16 September 2009 dalam rangka membantu korban bencana gempa bumi Jawa Barat. Ke tiga kader itu adalah: Ruswan, Oge Tampubolon, Markus Siburian. Rencananya mereka akan diterjukan di lapangan selama dua minggu. Selain kader Djong juga ada beberapa kader dari basis-basis yang lain.
Dalam misi ini mereka juga akan membawa bantuan yang berhasil dikumpulkan oleh kawan-kawan FPPI Kota Jogja beberapa hari yang lalu. Hari ini 15 September 2009, mereka akan mendapatkan pembekalan di Markas Juang Pemuda, ConCat, Jogjakarta.